Dringo sebagai salah satu bahan pembuat sambetan

KARANGNANGKA- Bagi kalangan masyarakat Jawa khusunya yang tinggal di pedesaan siap yang tidak mengenal sambetan yaitu ramuan herbal tradisional Jawa peninggalan leluhur yang diwariskan secara turun temurun umumnya digunakan untuk ibu hamil yang hendak melahirkan, atau pada saat sesudah melahirkan

Yang mungkin dari kata sambutan berkembang menjadi sambetan dimaksudkan untuk menyambut jabang bayi yang akan lahir, akan tetapi tidak bisa lepas bahwa ada kaitannya dengan keyakinan masyarakat Jawa.

Bahkan boleh jadi beberapa di antara mereka mempercayai bahwa sambetan itu bisa untuk menangkal berbagai macam penyakit dan bala. Sehingga sambetan tersebut selain dipakai oleh ibu hamil yang akan melahirkan, anak kecil yang panas, orang bepergian juga sebagai tolak bala.

Meskipun masyarakat meyakini dengan sepenuhnya bahwa, tidak ada yang bisa menghindarkan seseorang dari mudharat wabah seperi covid-19 kecuali Allah ta’ala saja. Akan tetapi terkadang kita selaku orang Jawa memilih dengan cara yang pernah di ajarkan oleh para leluhur selama tidak menjadikan syirik dan musrik, tanpa meninggalkan keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Bahan-bahan sambetan itu sendiri terdiri dari  Dringo Bengle sebagai unsur utama, ada yang ditambahi kunir atau kunyit, bawang merah,kemukus.

Dringo,blengke dan kunir di tumbuk, disembur, dioles keperut atau ke bagian yang sakit,sebenarnya ramuan sambetan itu memang terasa hangat di badan.

Akan tetapi bagi masyarakat Jawa khususnya yang hidup di pedesaan sambetan dapat di pergunakan unuk bermacam-macam kebutuhan seperti menolak hama bagi petani,tolak bala bagi rumah warga ataupun orang yang bepergian jauh,tentunya semua ini juga akan menjadikan sambetan tidak hanya sebatas bahan yang di sebutkan diatas akan tetapi ada bahan tambahan sesuai kebutuhannya.

Seperti adanya wabah Covid-19 yang oleh sebagian orang atau masyarakat dianggap pageblug mereka melakukan penangkalan dengan cara tradisional dengan menggunakan bahan-bahan yang ada dan mudah di cari seperti cabe,bawang merah,sada lanang,ijuk sebagai media tolak bala.

Begitu juga para petani ketika tanamannya terkena hama mereka akan melakukan tolak bala dengan sambetan yang sudah diramu untuk kemudian akan di sebarkan pada lahan pertanianya atau tempat yang terdampak hama.

Dengan adanya wabah Covid-19 yang terjadi di Indonesia tentunya menjadikan Kejadian Luar Biasa  hampir setiap desa mendirikan posko atau satgas pencegahan Covid-19 agar warganya tidak ada yang tertular.

Namun bagi soerang Sekretaris Desa dan anggota Linmas Desa Karangnangka Edi Supeno dan Ali Pujianto Kasam mereka melakukan tolak bala dengan cara tradisional ,mereka menanam sambetan di empat kiblat dan kelima di pancer desa sebagai salah satu upaya agar wabah atau pageblug tidak akan lama sehingga cepat berakhir dan tidak ada warganya yang tertular,tolak bala ini dilakukan dalam tiga kali dengan waktu tertentu  untuk keselamatan warga desa Karangnangka.

Memang secara ilmu pengetahuan sambetan sebagai media tolak bala maupun lainya belum bisa dibuktikan akan tetapi semua ini kembali pada mereka yang sudah melakukan dan berusaha dengan cara tradisional sebagai kearifan lokal dalam rangka ikut serta pencegahan Covid-19. Akan tetapi semua yang dilakukan baik dengan cara  modern maupun tradisional kita serahkan semua kepada Allah ta’ala semoga pandemi Covid-19 cepat berakhir. @zh

 

(Dibaca total 57 kali, dibaca 1 kali hari ini)