Masyarakat berebut gunungan yang berisi  hasil bumi di perempatan jalan desa

Masyarakat berebut gunungan yang berisi hasil bumi di perempatan jalan desa

KARANGNANGKA- Hanya dalam hitungan menit gunungan yang dipenuhi beraneka macam hasil bumi dan buah yang di buat oleh masyarakat, habis diperbutkan oleh ratusan orang yang sudah berkumpul sejak pukul 14.00 WIB di pertigaan depan balai Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Banyumas, Minggu (23/10/2016).

Mereka saling berebut untuk mendapatkan berkah dari berbagai macam hasil bumi dan buah dalam ruwat bumi  dan sedekah bumi yang di adakan oleh Pemerintah Desa Karangnangka bersama masyarakat di bulan sura dalam hitungan jawa ini bersamaan dengan tahun baru Islam  1438 H.

Gunungan hasil bumi merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat yang tinggal di 16 rukun tetangga kepada Tuhan Yang  Maha Esa yang telah melimpahkan panen yang dirasakan serta memberikan kehidupan dan penghidupan pada manusia khususnya warga desa Karangnangka.

Sebelum rebutan gunungan dan pagelaran wayang kulit untuk meruwat bumi masyarakat yang di wakili salah satu tokoh masyarakat nyekar di makam sesepuh desa Karangnangka, setelah acara nyekar selesai dilanjutkan dengan berjalan kaki memutari desa Karangnangka yang diikuti ribuan warga dengan berpakaian adat Jawa dan Muslim serta bunyi-bunyian seperti hadroh, rebana, kentongan serta membawa 16 bergada(tumpeng) serta bermacam hasil bumi yang di bawa peserta  untuk diarak menuju Joglo Wirayuda Karangnangka tempat sedekah bumi dilaksanakan.

Setelah para peserta diterima oleh kepala desa dan di doakan oleh tokoh Agama selanjutnya makan bersama dimulai diawali dengan pemotongan bergada oleh tokoh masyarakat.

Bersih desa atau Sedekah bumi adalah suatu ritual budaya  peninggalan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu. Dahulu pada masa Hindu ritual tersebut dinamakan sesaji bumi. Pada masa Islam, terutama masa Wali songo (500 tahun yang lalu) ritual budaya sesaji bumi tersebut tidak dihilangkan, malahan dipakai sebagai sarana untuk melestarikan atau mensyiarkan ajaran Allah yaitu ajaran tentang Iman dan Takwa atau didalam bahasa jawa diistilahkan eling lan waspodo yang artinya tidak mempersekutukan Allah dan selalu tunduk dan patuh mengerjakan perintah dan menjauhi larangan AIIah. Untuk mensyiarkan dan melestarikan ajaran Iman dan Takwa, maka para Wali menumpang ritual budaya sesaji bumi yang dulunya untuk alam diubah namanya menjadi sedekah bumi yang diberikan kepada manusia khususnya untuk anak yatim piyatu dan fakir miskin tanpa membedakan suku, agama, ras, atau golongan.

Tradisi sedekah bumi ini, merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang orang jawa terdahulu. ritual sedekah bumi ini biasanya dilakukan oleh mereka pada masyarakat jawa yang berprofesi sebagai petani yang menggantungkan kehidupan keluarga dan sanak famili mereka dari mengais rizki memanfaatkan kekayaan alam yang ada di bumi. Bagi masyarakat jawa khususnya para kaum petani, tradisi ritual tahunan semacam sedekah bumi bukan hanya merupakan sebagai rutinitas atau ritual yang sifatnya tahunan belaka. Akan tetapi tradisi sedekah bumi mempunyai makna yang lebih dari itu, upacara tradisional sedekah bumi itu sudah menjadi salah satu bagian yang sudah menyatu dengan masyarakat yang tidak akan mampu untuk dipisahkan dari kultur (budaya) jawa yang menyiratkan simbol penjagaan terhadap kelestarian serta kearifan lokal khas bagi masyarakat agraris yang ada di pulau jawa.

(Dibaca total 149 kali, dibaca 1 kali hari ini)