Lumpang batu yang digunakan untuk menumbuk padi

Lumpang batu yang digunakan untuk menumbuk padi

KARANGNANGKA- Sebelum jaman berkembang seperti sekarang bagi masyarakat yang hidup di pedesaan saat itu pasti mengenal lumpang batu yaitu alat untuk menumbuk padi pada jaman belum ada rice mill atau orang Jawa bilang selipan ( pengilingan padi dengan menggunakan mesin).

Lumpang batu dibuat dari batu yang di pahat dengan membentuk kotak dengan tinggi 50-60 cm yang bagian bawah ukurannya lebih kecil diameternya sedangkan yang bagian atas berukuran 35 cm persegi dan ditengahnya di lubangi dengan diameter 20 cm yang diatas, sedangkan semakin kedalam akan semakin mengerucut lubang tersebut. Mengenai ukuran lumpang batu bervariasi tergantung pembuatnya atau pesanan.

Dengan semakin majunya jaman lumpang batu sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat pedesaan karena beralih pada penggilingan padi yang hampir ada disetiap desa karena prosesnya dalam menghasilkan beras lebih cepat.

Bagi masyarakat pedesaan lumpang batu begitu banyak fungsinya selain untuk tempat menumbuk padi juga sebagal tempat membuat tepung dari beras ketika warga akan membuat jenang yang adonannya dari tepung beras ketan selain itu juga berfungsi untuk membuat minyak goreng dari bahan kelapa yang sudah diparud dan dikeringkan dengan cara diuncit dalam lumpang batu (digilas), selain itu juga untuk menumbuk kopi yang belum dimasak ataupun ketika membuat serbuk kopi setelah di goreng diatas sangan (pengorengan dari tanah liat) sampai kopi itu berwarna hitam.

Lumpang batu merupakan salah satu perkakas yang paling panjang masanya dari sejak jaman prasejarah sampai saat ini  juga masih banyak dijumpai keberadaannya terutama di pedesaan cuma sudah tidak difungsikan lagi seperti jaman dulu, karena sudah tidak dipakai biasanya hanya di biarkan di tepi rumah.

Bagi orang tua dulu menumbuk padi dengan lumpang batu adalah hal yang biasa dilakukan ketika persediaan beras habis. Ternyata beras dengan cara ditumbuk justru yang banyak mengandung vitamin B1 dan  nutrisi mikro lainnya karena kulit ari padi masih menempel atau tersisa sehingga nasipun rasanya menjadi gurih dan pulen serta tidak cepat basi.

 

 

(Dibaca total 125 kali, dibaca 1 kali hari ini)