Membuang sampah sembarangan menimbulkan berbagai polusi

Membuang sampah sembarangan menimbulkan berbagai polusi

KARANGNANGKA-Sampah adalah bahan sisa hasil aktivitas manusia yang sudah tidak digunakan lagi. Pada umumnya sampah dikumpulkan,diangkut dan di buang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Dampaknya adalah terjadinya pencemaran tanah, air dan udara ini karena pada sampah mengandung bibit penyakit pathogen, seperti tifus, hepatitis serta bahan beracurn dan berbahaya lainnya. Ini adalah tantangan bagi kita semua untuk berupaya mengurangi sampah, karena kita sebenarnya sumber sampah itu sendiri.
Betapa tidak kalau dicermati sebagian besar bahkan hamper semua sampah di TPA berasal dari rumah tangga, artinya seluruh anggota rumah tangga memikul tanggung jawab dalam hal persampahan. Partisispasi masyarakat sangat berpengaruh besar ini mengingat sampai saat ini baru sekitar 1% sampah yang dapat dikurangi atau dimanfaatkan.
Salah satu cara terbaik yang harus dilakukan adalah memberikan contoh pada lingkungan terkecil yaitu keluarga untuk mengurangi sampah (Reduksi) bahkan sejak sebelum sampah dihasilkan, diantaranya dengan merubah kebiasaan dari yang semula konsumtif menjadi hemat sehingga sampah yang dihasilkan menurun. Kemudian berupaya menggunakan kembali (Reuse) bahan atau material agar tidak menjadi sampah atau menggunakan kembali sesuai dengan fungsinya, misalnya menggunakan kertas bolak-balik, menggunakan kembali botol bekas minuman untuk tempat air, mengisi kaleng susu dengan susu refill.
Disamping itu juga berupaya mendaur ulang (Recycle) sampah menjadi barang lain setelah melalui pengolahan. Misalnya mengolah sisa kain perca menjadi selimut, kain lap, keset kaki.
Selain itu sudah barang tentu perlu penanganan khusus untuk sampah B3 (Bahan Buangan Berbahaya ) seperti lampu neon, batu battery, sisa obat-obatan, kaleng hair spray. Mewujudkan harapan tersebut sangat diperlukan kegiatan pemberdayaan masyarakat secara terprogram terpadu dan berkelanjutan, sehingga dicapai perubahan perilaku masyarakat dalam R3. Untuk itulah R3 hendaknya dilakukan sejak awal atau dini di berbagai lingkungan baik di sekolahan, rumah tangga, perkantoran maupun lokasi umum. Dengan demikian perubahan perilaku hidup masyarakat tidak saja terjadi di satu lingkungan melainkan secara merata di berbagai lapisan usia dan strata masyarakat.
Apabila pemahaman prinsip R3 telah merasuk pada diri anak-anak maka mereka bias menjadi polisi bagi kita, merekalah yang akan mengingatkan kalau suatu ketika kita lalai. Mereka pulalah yang akan menyadarkan kita akan tanggungjawab untuk senantiasa member contoh dan konsisten dengan ucapan, anjuran serta tindakan.
Di sinilah pentingnya di adakan pelatihan, percontohan ,studi banding dan kegiatan lainnya dalam R3 kepada masyarakat pedesaan. Dalam kaitan ini suda barang tentu diperlukan penangganan khusus dan dukungan dari berbagai pihak terkait seperti adanya lembaga organisasi pengelola yang terorganisir sesuai aspirasi masyarakat, dukungan peraturan pelaksanaan , teknologi ramah lingkungan, instansi pengelola sampah, pola monitoring.
Dengan cara demikian maka penanganan sampah tidak lagi bertumpu pada aktivitas pengumpulan sampah, pengangkutan dan pembuangan sampah. Lebih dari menjadikan individu masyarakat sebagai wirausaha melalui pengomposan di sumber baik rumah tangga, sekolah dan lainnya, yang secara signifikan mengurangi sampah pada tahap lanjutan.
Dalam sekala luas 3R memiliki keuntungan ganda, seperti mengurangi biaya pengangkutan ke TPA meningkatka kualitas material daur ulang, meningkatkan pendapatan karena penjualan dan pemanfaatan sampah, mengurangi pencemaran lingkungan, melestarikan sumber daya alam serta mengurangi efek gas rumah kaca, menekan pemanasan global. Muaranya mendukung terwujudnya lingkungan dan pribadi yang sehat. Mari kita laksanakan 3R dari diri kita sendir, keluarga dan masyarakat sekitar, jadi semuanya tergantung kita mau berubah atau tertimbun sampah?.

(Dibaca total 82 kali, dibaca 1 kali hari ini)