Pertemuan kelompok ternak sawedyambo dalam sosialisasi pelaksanaan GIBB

KARANGNANGKA-Untuk melaksanakan kegiatan Gertak (Sinkronisasi ) Berahi dan Inseminasi Buatan (kawin suntik) (GBIB) tahun 2015 pada ternak sapi potong di Kabupaten Banyumas, Sabtu malam 20/6/2015 Kelompok Ternak Sawedyambo (sapi, wedus, ayam, kebo) Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Banyumas, bertempat di ruang Auala PKK Desa Karangnangka melaksanakan Sosialisasi Pelaksanaan Kegiatan GBIB sebagai salah satu program nasional untuk meningkatkan populasi ternak sapi potong yang ada di Kabupaten Banyumas.

 Achmad Kodirin Ketua kelompok ternak sawedyambo mengatakan,” Kebutuhan akan daging sapi setiap harinya tidak kurang dari 40 ekor sapi yang dipotong untuk konsumsi masyarakat Kabupaten Banyumas, namun ini semua tidak berbanding dengan populasi atau angka kelahiran bagi sapi jantan yang ada saat sekarang, yang diperkirakan hanya 15 ekor kelahiran perhari sehingga kalau berbicara kebutuhan akan sapi potong per hari akan kekurangan 25 ekor sapi jantan untuk di konsumsi,”katanya.

Untuk itu kita semua selaku peternak sapi diharapkan menyambut baik apa yang menjadi program pemerintah, toh yang akan untung ketika berhasil kita sendiri,” imbuhnya.

Ketua Gapoktan Desa Karangnangka Edi Supeno menjelaskan,” yang perlu dipersiapkan nantinya pada saat kegiatan penyuntikan akan dilaksanakan para peternak atau kelompok harus menyiapkan sapi yang sehat, subur, sudah berumur atau layak untuk dilakukan suntik buatan dan yang lebih penting sapi betul-betul dalam masa berahi sehingga keberhasilanya lebih banyak,”jelasnya.

Keterus terangan para peternak juga diperlukan agar nantinya tidak terjadi kesalahan dalam memberikan kawin suntik seperti apakah sapi tersebut pernah beranak, sedang bunting atau malah sudah dikawinkan agar nantinya tidak terjadi hal-hal yang diinginkan pada sapi itu,” ungkapnya.

Iriserninasi Buatan ( disingkat IB) atau Kawin Buatan atau lebih dikenal di kalangan petani peternak dengan istilah “Kawin Suntik” adalah cara terbaru untuk mengawinkan hewan betina.
Sebagaimana diketahui bahwa proses kebuntingan/kelahiran seekor hewan betina didahului dengan proses bertemunya bibit jantan (spermatozoa) dengan sel telur betina ( ovum) yang selanjutnya menumbuhkan bakal anak. Dalam perkawinan secara alam, hewan jantan langsung menaiki sang betina dan menyemprotkan air maninya (yang mengandung sprematozoa) kedalam rahim betina. Dengan Inseminasi Buatan penyemprotan air mani ( semen) ini tidak dilaksanakan langsung oleh pejantannya akan tetapi dengan mempergunakan alat khusus.

Penampungan air mani (semen): sebelumnya sapi jantan yang telah terpilih dan khusus untuk di ambil semennya, dirangsang (teasing) dengan seekor sapi betina. Sapi jantan dibiarkan menaiki betina teaser, akan tetapi alat kelamin jantan (penis) ditahan jangan sampai masuk kealat kelamin betina (vagina). Sementara ini petugas telah menyiapkan alat penampung semen yang disebut vagina buatan (artificial vagina). Setelah jantannya cukup terangsang, pada saat yang tepat ( saat-saat penjantannya akan menyemprotkan air mani) alat kelamin penjantan dimasukkan dalam vagina buatan dan tertampunglah air mani yang mengandung jutaan spermatozoa.
Pengolahan semen beku (Frozen Semen):Semen yang tertampung dalam vagina buatan segera dibawa kekamar pemeriksaan untuk diperiksa apakah semen dapat diterima dan diproses.
Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:
Keadaan warna ; dilihat secara macroscopis (dengan mata biasa); apakah terlihat seperti susu kental ( baik), agak jernih(sedang) atau bening dan ada kotoran (jelek).
Volume ( banyaknya); yang dapat diterima minimum 3 cc,motility (gerak gelombang) dan spermatozoa; dilihat dibawah microscope dengan warmer slide.
Pengenceran dan pembekuan :
Setelah pemeriksaan, semen dicairkan dengan bahan pengencer khusus (bahan pengecer terdiri dari : skin milk, glocose, glycerol, kuning telur, antibiotik dan aquadest). Pengenceran disesuaikan dengan konsentrasi Semen, sehingga dapat diperoleh setiap dosis 0,25 cc. Larutan mengandung sekitar 25.000.000 spermatozoa. Setiap cc. air mani mengandung sekitar 1.000.000 spermatozoa, sehingga rata-rata dapat diencerkan menjadi 40 dosis. Kalau setiap semprotan ( ejaculatie) pejantan banyaknya 6 cc; air mani, berarti dapat diolah menjadi 240 dosis yang dapat menginseminasi 240 ekor sapi betina. Setelah Semen dicairkan dengan dua tahap (primary diluent dan secondary diluent), setiap dosis (berisi 0,25 – 0,50 cc larutan) dimasukkan dalam straw-straw. Kemudian straw-straw yang telah berisi larutan Semen mi disusun diatas rak-rak dan dibekukan diatas permukaan liquid nitrogen (temperatur -120º C) selama 9 menit. Setelah itu straw dimasukkan ke dalam tempat khusus (stroge container) berisi liquid nitrogen dengan tempratur -196°C. Untuk pengiriman ke daerah-daerah yang memerlukan, dipergunakan contrainer-contrainer yang lebih kecil (transport container). Semen yang telah dibekukan dan disimpan dalam container berisi liquid nitrogen ini dapat bertahan bertahun-tahun.

Sejak tahun 1976, kebutuhan Semen Beku (frozen semen) untuk lB di Indonesia tidak perlu mengimport lagi. Di Lembang – Bandung teiah dibangun laboratorium yang memproduksi Semen Beku lengkap dengan peralatan-peralatan yang mutakhir. Di Sentra Inseminasi Buatan Lembang ini dipelihara pula beberapa ekor sapi pejantan unggul jenis Luar Negeri seperti sapi Simmental, Herford, Brahman, Limousin, Fries Holland disamping jenis-jenis yang cukup dikenal seperti sapi Ongole, Bali. Ratusan ribu dosis Semen Beku dan bermacam-macam jenis sapi ini diproduksi setiap tahun dan disebarkan ke seluruh daerah yang memerlukan.

Sebagaimana pada perkawinan secara alam, hewan betina hanya bersedia dikawini oleh penjantannya pada saat-saat tertentu yang disebut masa berahi. Pada saat itulah tersedia telur betina (ovum) yang telah masak yang siap ditunasi spermatozoa. Jangka waktu (siklus) setiap kali masa berahi untuk setiap jenis hewan berbeda-beda. Siklus masa berahi pada sapi antara 18 -24 hari atau rata-rata 21 hari. Perkawinan yang dilaksanakan diluar waktu masa berahi, tidak akan menghasilkan kebuntingan. Demikian pula pada pelaksanaan inseminasi buatan ; harus dilaksanakan pada saat hewan betina dalam masa berahi. Petani peternak harus benar-benar memperhatikan kapan ternaknya dalam keadaan masa berahi. Umumnya hewan betina akan mernperlihatkan tanda-tanda, bilamana masa berahinya tiba. Pada saat itulah lB dilaksanakan.

(Dibaca total 133 kali, dibaca 1 kali hari ini)