Proses alami kotoran sapi sebagai pupuk organik sangat baik bagi tanaman padi

KARANGNANGKA- Pemakaian pupuk organik mampu meningkatkan kualitas hasil panen dibanding tanaman yang hanya diberinpupuk kimia, Antara lain hasil panen lebih tahan disimpan, lebih berat, lebih segar dan rasanya juga lebih enak.

Upaya peningkatan produksi pertanian yang sangat intensif,seperti pada zaman orde baru yang terkenal dengan program intensifikasi menyebabkan ketergantungan petani pada pupuk kimia .

Padahal pemakaian pupuk kimia bisa berdampak negatif seperti turunya kandungan bahan organik sehingga menurunkan aktivitas mikroba dalam tanah.

Selain itu pupuk kimia juga mengakibatkan struktur tanah memburuk dan mengurangi kemampuan tanah mengikat air. Ujung-ujnungnya produktivitas tanaman berkurang meski asupan pupuknya meningkat. Jalan keluarnya adalah dengan menambah bahan organik atau kompos dalam jumlah cukup ke lahan persawahan, supaya kandungan bahan organiknya kembali pada jumlah ideal seperti semula.

Bahan-bahan organik yang mampu mengembalikan kondisi tanah itu bisa berasal dari tanaman atau kotoran hewan seperti letong (kotoran sapi) yang sudah diolah atau di buat kompos.

Apalagi sifat bahan organik itu tidak sama dengan pupuk kimia, pemberian pupuk organik dalam jumlah banyak tidak merusak atau mencemari lingkungan serta aman bagi manusia.

Hanya saja bahan organik yang akan dimasukan ke sawah sebaiknya diproses terlebih dahulu menjadi kompos, karena proses alami penghancuran bahan organik ini butuh waktu relatif lama sekitar 1,5 bulan.

Limbah kotoran sapi atau jerami sesungguhnya dapat didaur ulang menjadi penyedia unsur hara tanah, dengan cara mengembalikannya ke tanah sebagai kompos. Secara bertahap kotoran sapi dapat menambah bahan organik dan kesuburan tanah tanah walaupun butuh proses alami yang lama.

Sebagai contoh untuk mencapai hasil gabah padi sebanyak 4 ton/hektar diperlukan N sebanyak 90 kg, P sebanyak 13 kg, K sebanyak 108 kg, Ca sebanyak 11 kg, Mg sebanyak 10 kg dan S sebanyak 4 kg. Hara dalam jumlah tersebut tersimpan dalam batang, daun dan gabah padi. Kebutuhan hara sebanyak itu sebenarnya dapat diperoleh dari gabah padi sebanyak 4 ton. Artinya batang, daun dan gabah padi itu diangkut ke luar ladang maka terangkut pula hara tersebut. Begitu sebaliknya apabila jerami tadi dikembalikan sebagai pupuk organik maka hara yang terkandung di dalam jerami atau kotoran sapi bisa bermanfaat pada mas tanam berikutnya.

Selain berfungsi sebagai pupuk kotoran sapi dan jerami dapat memperbaiki struktur tanah , meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan meningkatkan kemampuan tanah mempertahankan kandungan air tanah.

Kompos kotoran sapi dan jerami meningkatkan aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat bagi tanaman, sehingga membantu tanaman menyerapa unsur hara dari tanah.

Aktivitas mikroba tanah juga diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan pemyaki, tanaman yang dipupuk kompos dari kotoran sapi dan jerami cenderung lebih baik kualitasnya dari tanaman yang hanya dipupuk dengan bahan kimia, Antara lain hasul panen lebih tahan dismpan, lebih berat isi padinya, lebih segar dan memiliki rasa yang lebih enak.

Bahwa pupuk dari kotoran sapi atau jerami mempunyai banyak manfaat baik dalam aspek ekonomi, lingkungan, hingga tanah dan tanaman. Secara ekonomi kompos kotoran sapi menghasilkan panen yang memiliki nilai jual tinggi, kotoran sapi dan jerami dapat menguranggi volume limbah dan menghemat biaya produksi petani.

Terhadap lingkungan kotoran sapi dan jerami mengurangi polusi udara baik bau maupun asap pembakaran jerami. Sedangkan bagi tanah dan tanaman kotoran sapi sanggup meningkatkan kesuburan , memperbaiki struktur fisik, biologi dan kimia tanah, menekan pertumbuhan atau serangan hama dan penyakit tanaman, menyediakan hormon serta vitamin bagi tanaman.

(Dibaca total 102 kali, dibaca 1 kali hari ini)