Sapi perah : dengan beternak sapi perah akan meningkatkan perekonomian keluarga

KARANGNANGKA-Bermodal sebagai peternak sapi perah milik adik iparnya, Sartono (40) mulai menapak naik menjadi peternak sapi perah di Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Banyumas. Kuncinya, sabar dan telaten untuk menjalaninya

Sartono adalah contoh peternak sapi perah yang ulet dan tekun untuk mengembangkan usaha. Setelah 3 tahun berkutat di usaha ini, kini pria yang biasa dipanggil Tono ini bisa berbangga lantaran usaha yang dilakoninya menjadi pekerja di peternakan adiknya dengan tekun ini mulai nampak hasilnyal. Dari modal merawat sapi perah kini sudah mempunyai sendiri yang jumlah ternaknya telah 6 ekor. Berkat usaha ternak sapi perahnya tersebut, Sartono pun kini mulai dapat mengangkat derajat perekonomian keluarga.

Ayah dua anak ini bisa menyekolahkan anaknya dengan tenang, tanpa harus was-was dengan pembiayaan untuk pendidikan, bahkan mampu memenuhi kebutuhan lainya tidak seperti pada saat belum menjadi peernak. ”Alhamdulillah kehidupan kami sekarang lebih dari cukup,” kata pria yang hanya lulusan SMP tersebut.

Meski telah sedikit-sedikit menuai hasil dari beternak sapi perah, Sartono mengaku belum sepenuhnya puas. Cita-citanya adalah terus menambah jumlah sapinya agar usahanya semakin maju
Sartono berpendapat, usaha ternak sapi perah bakal semakin prospektif lantaran kebutuhan susu murni nasional terus meningkat. ”Kesadaran masyarakat kita meminum susu semakin hari semakin baik. Itu berdampak bagus bagi peternak seperti kami,” tuturnya.

Kendala menjadi peternak sapi perah memang masih ada. Situasi sulit yang dihadapi peternak sapi perah seperti Sartono adalah ketika harga jual susu di tingkat koperasi jatuh.

Apesnya, tak banyak pilihan bagi para peternak untuk keluar dari situasi ini. ”Lebih repot lagi jika sapi bunting. Produksi susu pasti turun,” aku Sartono.

Situasi seperti itu, menurut Sartono, membutuhkan kreativitas peternak. Daripada berkutat dengan masalah pelik harga jual susu, Sartono memilih mencari pemasukan dari sumber lain atau paling tidak bisa mengurangi biaya perawatan.

Berbekal kondisi yang dia lihat pada petani dalam bercocok tanam dalam memupuk menggunakan pupuk organik,membuat Sartono memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku pupuk organik. Dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi pupuk Sartono mendapat tambahan penghasilan walau tidak seberapa akan tetapi ini sangat membantu kala produksi susu berkurang.
Tak heran bila pria kreatif ini menjadi panutan bagi peternak sapi perah di Desa Karangnangka. “Kita harus kreatif dengan segala masalah yang ada. Kalau tidak, ya tidak akan maju-maju. Petani atau peternak seperti kebanyakan tidak akan bisa menikmati jerih payahnya,” pesan Sartono.

Perjalanan Sartono hingga menjadi sekarang cukup panjang. Pada 2012 ketika menginjak usia 37 tahun, dia mulai mengikuti jejak adik iparnya yang juga peternak sapi perah. Keinginan Sartono mengikuti jejak adik iparnya dilatar belakangi minatnya dengan dunia peternakan disamping pada saat itu memang tidak mempunyai sapi disisi lain juga sudah berkeluarga dan mempunyai anak yang harus dinafkahi setiap hari kalau hanya mengandalkan menjadi pekerja pada adiknya tidak hasilnya tidak akan mencukupi kebutuhan keluarganya. Sartono benar-benar total menimba ilmu dari adik iparnya. Semua hal yang berkaitan dengan dunia ternak sapi perah dia pelajari.

Mulai dari pakan, kebersihan kandang, cara memerah susu, dan perawatan sapi agar menghasilkan produk susu berkualitas. Ibarat murid sekolah,Sartono juga memegang prinsip bahwa setiap tahun dia harus naik kelas. Dia berprinsip tak ingin sekadar menjadi peternak sapi perah seperti yang dilakukan peternak lainnya di Desa Kaarangnangka, Kedungbanteng, tapi juga harus memiliki nilai lebih.

Berkat keuletannya, tak heran Sartono mampu menyerap ilmu dari adik iparnya dengan cepat. Pada tahun ketiga sejak dia masih menjadi “murid” adik iparnya, Sartono telah memiliki tujuh ekor sapi perah dari modal awal tidak mempunyai satu ekorpun sapi. Keinginan Sartono untuk terus maju tak pernah padam.Meski sekarang telah memelihara tujuh sapi perah, dia ingin menambah ternaknya lagi.

”Padahal, dengan dua ekor sapi perah saja sudah cukup untuk mendukung perekonomian keluarga,”katanya.

Keinginan itu akhirnya bisa terwujud ketika dari Dinas Peternakan yang bekerjasama dengan Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman menawarkan bantuan sapi. Modal ini dipakai untuk membeli beberapa ekor sapi lagi sehingga jumlahnya menjadi enam ekor
Dari dua ekor,usaha sapi perah milik Sartono terus berkembang. Kini ternak sapi perahnya mencapai enam ekor. Semua sapi perahnya dia pelihara sendiri di lahan ternak milik pemerintah desa Karangnangka bersama-sama dengan peternak sapi potong . Setiap sapi rata-rata dapat menghasilkan 10 liter susu segar per hari.

Dengan harga susu segar Rp5000,- per liter kalau dijual pada koperasi, Sartono mampu meraup penghasilan Rp100.000,- per hari atau sekitar Rp.3.000.000,- juta per bulan, hanya dari 5 ekor sapi yang produktif yang dia pelihara sendiri. ”Dari usaha tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar pria rendah hati ini.
Sartono juga mengaku senang bisa beternak sapi perah yang masih jarang dilakukan oleh para peternak sapi perah di desanya. Sehingga diharapkan para peternak sapi lainya dapat mengikuti jejak Sartono yang tentunya sekecil apapun ada pemasukan setiap hari sehingga tidak merasa binggung ketika membutuhkan anggaran yang membutuhkan dana harian.

(Dibaca total 109 kali, dibaca 1 kali hari ini)