Terjun langsung: peserta pelatihan dikenalkan bagaimana memilih bibit sapi yang baik

KARANGNANGKA-Salah satu anggota kelompok ternak Sawedyambo (sapi, wedus,ayam kebo) mengikuti pelatihan budi daya ternak sapi potong bagi non aparatur yang di selenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian Balai Besar Pelatihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinaga Bogor, pelatihan dilaksanakan selama tujuh hari mulai Minggu 8-14/2/2015 dengan jumlah 56 jam pelajaran dengan peserta sebanyak 30 orang dari beberapa daerah, meliputi provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten.Dari Jawa Tengah empat kabupaten yang mengikuti pelatihan ini yaitu Kabupaten Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Temanggung, sedang perwakilan dari Kabupaten Banyumas Desa Karangnangka dan Ajibarang Kulon.

Dari Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Banyumas sebagai wakil dari kelompok ternak Sawedyambo yaitu Akhmad Kodirin selaku pengurus dari kelompok tersebut.

Kementerian telah menetapkan visi yaitu terwujudnya pertanian industrial unggul berkelanjutan yang berbasis sumberdaya lokal untuk meningkatkan kemandirian pangan, nilai tambah, daya saing, ekspor dan kesejahteraan petani.

Untuk mewujudkan visi tersebut Kementerian Pertanian telah mentapkan empat program sukses pembangunan pertanian ,pencapaian swasembada pangan dengan sasaran utama komoditas padi, jagung, kedele (Pajale) dan daging sapi serta swasembada berkelanjutan dengan sasaran utama komoditas padi jagung dan kedele, peningkatan pangan dengan sasaran utama penurunan konsumsi beras, 1,5% per tahun dan peningkatan di skor pola pangan harapan, peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor dengan sasaran utama pemilihan komoditas penghela untuk industri pedesaan dan produk olahan serta peningkatan surplus neraca perdagangan, peningkatan kesejahteraan petani dengan sasaran utama pencapaian rata-rata laju peningkatan pendapatan perkapita.

Sampai saat ini Indonesia masih membutuhkan daging sapi dalam jumlah cukup besar menginngat permintaan daging sapi dalam negeri terus meningkat, namun supply daging sapi yang berasal dari produk lokal dari tahun ke tahun tidak meningkat bahkan cenderung menurun.Tantangan yang masih dihadapi di Indonesia adalah menurunya populasi sapi karena rendahnya produktivitas yang disebabkan masa produktif yang pendek, karena berbagai gangguan reproduksi, tingginy angka kematian pedet dan tingginya angka pemotongan sapi betina produktif.

Kondisi ini terjadi karena masih terbatasnya tingkat penguasaan teknologi oleh peternak ditengah persaingan pasar yang semakin ketat serta rendahnya pengetahuan,ketrampilan dan sikap peternak dan petugas dalam manajemen agribisnis sapi potong.

Untuk mengantisipasi tantangan dan kondisi tersebut sudah sepantasnya pemerintah hadir ditengah-tengah para petani, peternak dalam pengembangan sumberdaya manusia pertanian salah satunya melalui pemantapan sistem pelatihan pertanian dengan fokus pada peningkatan kapasitas dan kompetensi petani ternak.

Akhmad Kodirin mengatakan,pelatihan atau diklat ini bertujuan agar para petani ternak dapat meningkatkan kopentensi petani atau peternak di bidang teknis dan prinsip budidaya sapi potong yang nantinya diharapkan dapat mendukung program PSDS/K (peningkatan swasembada daging sapi atau kerbau),” katanya.

Pelatihan terdiri dari dua metode pertama meliputi dinamika kelompok, merancang kandang, mengelola pengembangan reproduksi sapi potong, menyusun ransum sapi potong, membuat konsentrat, memilih bibit sapi potong, memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak, menghitung kebutuhan konsentrat dan menangani kesehatan sapi potong, dan yang kedua praktek secara langsung yang dilakukan ahap demi tahap sampai selesai sehingga para peserta dapat mengetahui tata cara pembuatan fermentasi jerami padi serta proses penyimpanannya.

Seperti kita ketahui salah satu faktor permasalahan pakan ternak sapi yang sering timbul adalah penyediaan bahan pakan ternak kurang seimbang antara musim kemarau dan musim penghujan. Khusus di Kabupaten Banyumas terutama Desa Karangnangka produksi hijauan sangat dipengaruhi oleh musim yaitu di musim hujan hijauan pakan ternak mudah didapat tetapi sebaliknya di musim kemarau hijauan pakan ternak produksinya berkurang, sehingga kebutuhan ternak tidak tercukupi.Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pakan alternatif selain hijauan pakan ternak, berupa pemanfaatan limbah hasil pertanian (jerami padi, jerami jagung, jerami kacang – kacangan dan sebagainya). Masalah utama memanfaatan jerami sebagai pakan adalah rendahnya daya cerna yang disebabkan adanya ikatan fisik dan ikatan kimia antara selulosa, hemiselulosa, lignin dan silica. Untuk mengatasi hal tersebut, salah satu teknologi yang lazim digunakan adalah teknologi fermentasi.Fermentasi adalah proses perombakan dari struktur keras secara fisik,kimia dan biologi, dari bahan yang berstruktur keras secara fisik, kimia dan biologi dari bahan yang berstruktur komplek menjadi sederhana, sehingga daya cerna ternak menjadi mudah dan efisien.

(Dibaca total 106 kali, dibaca 1 kali hari ini)