MEMPESONA : Tari Gambyong yang mempesona tampil dalam Extravangansa 2014

KARANGNANGKA- Peringatan Ulang Tahun Kabupaten Banyumas yang ke 453 di meriahkan dengan pawai budaya, Minggu 27/4 yang di kemas dalam Acara Extravangansa 2014 dengan tema”Dalam Balutan Topeng Batik Banyumasan” menghadirkan banyak kesenian lokal (tradisonal) yang ditampilkan dari berbagai komunitas Perwakilan dari 27 Kecamatan, Pelajar, Mahasiswa dan perusahaan swasta yang ada di Kabupaten Banyumas.
Begitu juga Kecamatan Kedungbanteng mengikutkan pesertanya dalam Extravagansa tersebut yang menampilkan kolaborasi Tari Gambyong dengan Renggkong. Tari Gambyong di bawakan oleh para seniman Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng yang memang begitu memukau para penonton karena para penarinya begitu gemulai dan menjiwai tarian tersebut,walaupun rata-rata usia penari telah berusia empat puluh tahun. Akan tetapi tidak mengurangi gerak yang mereka bawakan karena pada dasarnya jiwa seni telah tertanam pada mereka semua sejak usia masih SD, sehingga sampai tuapun jiwa seni itu masih melekat.
Tari Gambyong merupakan sejenis tarian pergaulan di masyarakat. Saat ini, Tari Gambyong menjadi suatu tarian yang disajikan untuk menyambut tamu atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Ciri khas pertunjukkan Tari Gambyong, sebelum dimulai selalu dibuka dengan gendhing Pangkur. Tariannya terlihat indah dan elok apabila si penari mampu menyelaraskan gerak dengan irama kendang dan gending. Sebab, kendang itu biasa disebut rohnya tarian dan pemandu gendhing.
Biasanya dikenal di kalangan penabuh instrumen Tari Gambyong, memainkan kendang bukan hal yang mudah. Pengendang harus mampu sinergi dengan keluwesan tarian serta mampu berpadu dengan irama gendhing. Maka tidak heran, sering terjadi seorang penari Gambyong tidak bisa dipisahkan dengan pengendang yang selalu mengiringinya. Begitu juga sebaliknya, seorang pengendang yang telah tahu lengok maupun lagu si penari Gambyong akan mudah melakukan harmonisasi.
Pada era 1987 Tari Gambyong Desa Karangnangka begitu terkenal karena sering dipakai pada acara baik di tingkat desa maupun Kabupaten untuk menyambut tamu dan bahkan pernah sampai di tingkat Provinsi. Ini semua tidak lepas dari peran sert Sri Rahayu yang kala itu sebagai guru tari sampai pada saatnya sebagai istri Kepala desa Karangnangka periode 2006-2013 masih tetap mendampingi para penari, akan tetapi karena usia sekarang sudah tidak lagi melatih anak-anak menari tetapi diteruskan oleh muridnya,” Ujar Jafar Aerudin Kepala Desa Karangnangka.
Begitu juga seni Rengkong yang secara tradisi adalah proses membawa padi dari sawah ke rumah yang dipikul dengan mengunakan sepotong bambu sehingga menimbulkan bunyi, dan proses seperti ini tidak hanya ada di Desa Kutaliman akan tetapi hampir disetiap desa yang saat itu belum mengenal mesin rontok pada saat panennya. Hanya saja dengan sentuhan dan ide mantan Kepala periode 2006-2013 Desa Karangnangka Sasmito yang waktu menjabat sebagai kades juga menjabat sebagai pamong budaya menghidupkan kesenian tradisional Rengkongan yang memang secara teknisnya diberikan pada masyarakat Kutaliman melalui kepala desanya saat itu Korib untuk di jadikan sebuah kesenian,”imbuhnya
Kalaupun kesenian Rengkong sekarang masih ada itu hanya karena Desa Kutaliman yang melestarikan sedangkan desa-desa lain tidak ada yang melestarikanya karena pada dasarnya semua desa bisa melakukan itu tinggal mau atau tidak melestarikannya.
Sudah seharusnya dengan semakin majunya teknologi jangan sampai kesenian tradisional yang ada semakin terdesak dan akhirnya akan punah. Ini semua menjadi tanggungjawab kita semua baik pemerintah, masyarakat dan para pegiat seni tradisional.

(Dibaca total 79 kali, dibaca 1 kali hari ini)