Perempuan yang mencari butir padi dari jerami yang telah dirontok

KARANGNANGKA- Langit begitu cerah dan matahari mulai terasa menyengat di badan,dari jauh tampak tiga orang perempuan paruh baya masuk ke lahan sawah pengarapan kadus 2 Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng yang hari itu akan panen.
Mereka dua warga desa Karangnangka dan satu warga tetangga desa,setiap hari mereka akan mencari petani yang panen untuk gosok atau rinso istilah yang biasa di pakai oleh petani pemilik sawah.Gosok atau rinso yang dilakukan bukan menyeterika atau mencuci pakaian dengan rinso akan tetapi mencari bulir padi yang terbawa bersama jerami yang telah dirontok dengan cara manual maupun mesin.Itulah pekerjaan yang dilakukan para perempuan paruh baya tersebut ketika musim panen tiba.
Pada saat perontokan padi dimulai mereka akan mengelar kandi (kantong) yang dibelah sehingga menjadi lebar sebagai alas untuk menerima buangan jerami bersama butiran-butiran padi yang terbawa atau masih tersisa dijerami,satu demi satu butir padi mereka kumpulkan lalu ditapis. Pada umumnya mereka melakukan pekerjaan ini karena tidak memiliki lahan pertanian mereka hanya buruh dan kebanyakan berstatus janda.
Kalau penghasilan dari mengumpulkan butiran padi dari sisa rontok memang tidak seberapa mengingat banyak yang berprofesi sama sehingga otomatis akan menpengaruhi penghasilan. Paling hanya mendapat satu atau dua kilo kalaupun lebih dari dua kilo itu karena kebijakan pemilik lahan memberi dua sampai tiga kilo.
Kebanyakan mereka dalam masyarakat termasuk orang yang masuk dalam kategori kurang mampu,akan tetapi patut dicontoh karena mereka walaupun usia sudah tua tetapi semangat mandirinya masih kuat.
Kalau petani mulai menanam padi mereka akan menjadi buruh tanam padi sehingga mereka tahu persis kapan pemilik sawah tersebut akan panen sehingga pekerjaan gosok akan dilakukan kembali.
Kidem(60) mengatakan,” dari pada petan gosok pari ya lumayan,olihe sih ora piraha tapi wong butuh mangan,”katanya (daripada hanya mencari kutu memilah jerami yang ada padinya lumayan,walau penghasilan tidak seberapa tapi karena kita butuh makan).
Ora ngolet dewek sapa mas sing arep nanggung,sing penting halal ora dadi rengan wong liya,”imbuhnya (Tidak mencari sendiri siapa mas yang mau menanggung,yang penting halal dan tidak menjadi beban orang lain).
Setidaknya ketiga perempuan paruh baya tersebut bisa menjadi teladan bagi orang yang masih kuat dan muda akan tetapi malas bekerja dan bisanya hanya minta-minta atau melakukan perbuatan yang terkadang membuat orang lain menjadi korban.
Disisi lain tentunya pemerintah desa dapat memberikan solusi terutama bagi warganya yang kurang mampu agar mereka terpenuhi hak dasarnya,tidak hanya mengandalkan bantuan pemerintah pusat seperti beras untuk orang miskin. Karena program raskin pada akhirnya juga dinikmati oleh para pemilik lahan pertanian dan orang-orang yang mampu dan pemerintah tidak bisa menghentikan pembagian raskin yang tidak sesuai dengan aturanya.

(Dibaca total 87 kali, dibaca 1 kali hari ini)