Bagi lahan sawah yang kurang air harus melakukan pola tanam

Karangnangka- Jagung merupakan komoditas strategis yang mempunyai nilai ekonomis dan sebagai sumber utama karbonhidrat dan protein setelah beras.

Seperti halnya kelapa, seluruh bagian tanaman jagung dapat dimanfaatkan. Ditengahnya menyusutnya lahan pertanian, jagung tetap dapat dikembangkan dengan cara pada lahan sawah yang ditanami padi sekali setahun. Meningkatkan Indek prestasi dari Indek prestasi 100 menjadi 200 dimana pada pertanaman kedua ditanami jagung. Ataupun pada lahan sawah yang ditanami padi 2 kali setahun dan meningkatkan IP menjadi IP300 dengan menanam jagung pada musin tanam ke tiga, pada lahan tegalan dan ladang yang diusahakan, namun sudah dapat dimanfaatkan perlu pendampingan agar pertanaman dapat tumbuh dengan baik.

Pola tanam dan waktu tanam yang baik diharapkan dapat menjamin penyediaan produksi secara merata sepanjang tahun serta peningkatan produktivitasnya yang pada giiranya dihrapkan juga akan mengurangi kenaikan harga serta penyediaan lapangan kerja yang merata. Optimalisasi lahan dapat dilaksanakan melalui IP di lahan sawah, lahan kering. Penerapan pola tabnam tumpang sari.

Pola tanam pada dasarnya merupakan penyesuaian pada kondisi alam dimana setiap wilayah akan mempunyai pola tertentu yang sesuai dengan potensi alam setempat. Berdasarkan pengaruh dan sifat dari masing-masing faktor seperti iklim dan ketersediaan air.

Pola tanam dapat di bagi menjadi lahan irigasi yang biasanya dijumpai tanaman padi dan palawija serta tanaman hortukultura yang diatur dalam suatu pola tanam tertentu. Dengan adanya pola tanam yang sesuai dan menguntungkan terbukalah kenungkinan peningkatan efesiensi penggunaan air.

Pola tanam pada lahan tadah hujan pertanamanya biasanya dilakukan pada waktu/saat huyjan turun dan di luar musim tersebut tidak ada pertanaman untuk menguranggi resiko kegagalan pertanaman dapat dilakukan dengan penanaman pola gogo rancah dan gludugan untuk tanaman pada dan palawija.

Seperti halnya para petani di desa Karangnangka juga mengingat kemarau mulai mengancam sebagian petani yang sawahnya susah untuk mendapatkan air mereka bertanam jagung. Tentunya ini hal yang memang harus dilakukan agar petani tetap mendapatkan hasil dengan tidak membiarkan lahannya di tumbuhi rerumputan.

Edi Hartono (44) seorang petani mengatakan “ saya sudah menanam jagung dua kali ternyata hasilnya kalau dirupiahkan tidak kalah jauh dengan padi, disamping itu perawatanya tidak susah,” katanya.

Apalagi dengan debit air mulai menyusut kita hanya akan capai saling berebut air jika kita menanam padi, kalaupun jagung butuh air tidak begitu banyak seperti padi,” imbuhnya.

(Dibaca total 57 kali, dibaca 1 kali hari ini)