Diskusi bagi kelompok akan menemukan solusi permasalahan yang ada

Karangnangka- Bertempat di garasi rumah Bapak Ruli Yanuar RT 001/001 Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng, Sabtu 14/9 telah diadakan Pertemuan kelompok tani serta dialog dengan Budiman Sudjatmiko,MSc.MPhil dari Komisi II DPR RI selaku wakil ketua Panitia Khusus dan Panja Rancangan Undang-Undang Desa (RUU Desa) yang sedang di godog oleh DPR RI.

Pertemuan ini untuk pertama kali semenjak adanya Kepala Desa yang baru untuk saling silaturahmi dengan kelompok yang ada di Desa Karangnangka disamping menguatkan kapasitas ditingkatan kelompok agar dapat berjalan beriringan dan sinergi bersama pemerintah desa.

Diharapkan dengan pertemuan kelompok tani ini agar kelompok dapat berfungsi sebagai kelas belajar, wahana kerja sama dan unit produksi, unit penyedia sarana dan prasarana produksi, unit pengolahan dan pemasaran dan unit jasa penunjang sehingga menjadi organisasi petani yang kuat dan mandiri.

Dalam pertemuan tersebut juga menginventarisasi permasalahan yang sering terjadi di kalangan petani terutama saat menghadapi musim kemarau yang mengakibatkan debit air sungai sebagai sumber untuk mengairi sawah akan berkurang, sehingga diharapkan tidak terjadi saling berebut yang mengakibatkan gagal panen mapun terjadi pertengkaran sesama petani. Akan tetapi petani didorong untuk bisa melakukakan pola tanam dalam menyiasati kondisi kekurangan air sehingga para petani tetap bisa memperoleh hasil tanpa membiarkan lahannya tidak ditanami.

Sumadiarjo Sakun (54) wakil ulu-ulu mengatakan,” saat musin kemarau seperti ini para petani diharapkan mau mengatur penggunaan air untuk mengairi sawah dan kolam perikanan sehingga tidak akan menang-menangan dalam mengunakan air, jangan hanya karena berebut air rasa kebersamaan kita hilang apalagi sampai bacok-bacokan,” katanya

Sedang dalam acara dialog dan sosialisasi dengan Komisi II DPR RI yang berkaitan dengan RUU Desa tentunya harapan masyarakat warga desa bisa terealisasi melalui lahirnya UU Desa.

Karena Desa merupakan realitas di Indonesia, sebelum Indonesia mendeklarasikan diri menjadi negara, desa sudah hadir menjadi wujud penting bangsa dimana perkembangan peradaban Indonesia berdiri diatasnya. Adat, norma, tradisi, pranata, politik, sistem perekonomian, demokrasi dan pemerintahan khas Nusantara telah tumbuh di dalamnya.

Tetapi ketika negara ini berdiri dan melahirkan sistem perundan-undangan yang meminggirkan peranan desa. Demikian penyelenggaraan pembangunan nasional andil dalam memarginalkan desa.

Semangat membangun atas usulan dari bawah di ganti dengan sistem membangun negara dari atas di mana semua kendali pembangunan harus menurut pada pemerintah pusat sehingga desa hanya sebagai objek pembangunan yang terkadang tidak pas dengan kondisi wilayah.

Penyeragaman desa, penarikan kewenangan desa, penguasaan sumber daya alam desa merupakan kebijakan kurang pas.

Yang pada akhirnya bukan negara menjamin kesejahteraan desa akan tetapi desa yang menjadi sumber kesejahteraan pusat.

Miftah Hidayat (38) salah seorang kelompok tani dan juga Ketua RT 01/05 menyampaikan,” selama ini desa maupun RT kalau mau membangun harus muter-muter ataupun mencari orang yang bisa membantu mencarikan dana untuk pembangunan karena desa maupun RT tidak mempunyai anggaran, diharapkan pemerintah peka terhadap kondisi desa yang seperti ini sehingga tentunya anggaran pemerintah seyogyanya bisa langsung diberikan pada desa jadi kalau desa atau RT mau membangun dana sudah ada,” jelasnya

Budiman Sudjatmiko menjelaskan “ selama ini anggaran yang diterima oleh desa hanya ibarat ampasnya setelah santannya di ambil oleh supra desa melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah yang ada di tingkat Kabupaten, dan itu yang harus didorong bersama agar dengan lahirnya Undang-Undang Desa nantinya anggaran betul-betul bisa dinikmati oleh masyarakat sehingga ketika desa mau membangun sesuatu tidak terbentur masalah anggaran, dan nantinya kesejahteraan masyarakat akan terwujud,” ujarnya.

Disela-sela Dialog dengan petani Budiman Sudjatmiko juga mengunjungi kawasan minapolitan yang sudah terakses internet sebagai sarana untuk memasarkan maupun mempromosikan hasil pertanian ,perikanan , peternakan maupun usaha-usaha yang dijalankan oleh masyarakat desa Karangnangka.

Dengan adanya sarana internet ini diharapkan semakin berkembang usaha mikro maupun agrobisnis di desa Karangnangka yang selama ini terkendala pemasaran karena kurangnya media promosi pada pihak luar.

Hadir dalam pertemuan dan dialog tersebut Kepala Desa Karangnangka beserta perangkatnya, para ketua Rukun Tetangga (RT), kelompok perikanan sempulur ,kelompok peternakan kambing Menda Sae, kelompok peternakan sapi perah Barokah dan Sawedyambo serta masyarakat umum.

(Dibaca total 51 kali, dibaca 1 kali hari ini)