Walau Usia telah renta tapi tetap semangat menjadi petani sejati

Karangnangka-Mentari pagi baru saja menampakan sinarnya diufuk timur. Jalan tepi saluran yang membelah areal persawahan di kawasan pertanian Bodong desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng kabupaten Banyumas, sudah mulai ramai oleh lalu lalangnya para warga. Diantara warga sesosok laki-laki tua mengenakan kopiah biru menyeruak dari rimbunan pohon pisang di pematang.

Pakaianya tak beda dengan yang lain, celana pendek selutut dan baju lengan pendek warna coklat susu. Ia menjejakkan kakinya di sawah, seraya menaruh tas dan sebotol air di gubugnya.

Pagi itu pak Parjo petani tua itu biasa dipanggil, mau menanam kedelai di pematang sawah. Ia memang sosok petani sejati yang sudah tijuh puluh tahun bekerja sebagai petani.

Meski usianya telah mencapai 89 tahun, tapi semangat dan tenaganya tak pernah tua. “dari usia empat belas tahun saya sudah belajar bertani dari orang tua saya dulu sampai akhirnya orang tua meninggal akhirnya saya yang melanjutkan taninya” kata bapak enam anak dan sembilan cucu ini.

Pak Suparjo merupakan petani tertua di desa Karangnangka, di usia muda pak Parjo pun juga ikut menjadi OPR bentukan Jepang sebagai keamanan di desanya sambil terus belajar bertani padi dan palawija.

Sebagai petani aktivitas pak Parjo tak ubahnya seperti petani lain, begitu waktu subuh masuk ia bangun dari tidurnya untuk melakukan Sholat subuh. Setelah sholat dan minum air putih sekitar pukul 6.30 ia bergegas pergi ke sawah yang berjarak 1 km yang berbatasan dengan desa lain.

Pagi itu pak Parjo menanam kedelai hitam di pematang sawah yang luasnya 2700 m2 sebagai penghasilan tambahan, pak Parjo terlihat masih lincah dan kuat saat membuat lubang dan memasukan biji kedelai dipematang.

Sekitar pukul 10.00 pak Parjo sudah selesai menanam kedelai di pematang bagian utara, ia lalu beristirahat di depan gubunya sambil minum air putih yang dibawa dari rumah. Setelah kurang lebih 20 menit istirahat pak Parjo meneruskan pekerjaannya.

Tak terasa waktu menunjukan pukul 11.30, pak Parjo menghentikan pekerjaanya untuk siap-siap pulang ke rumahnya yang membutuhkan waktu 30 menit dengan jalan kaki. Sampai di rumah waktu sholat zuhurpun tiba, Pak Parjo segera mandi dan mengambil air wudlu untuk melaksanakan sholat zuhur setelah selesai dilanjutkan makan siang. Usai itu ia beristirahat untuk memulihkan tenaga yang telah di pergunakan disawahnya dari pagi sampai tengah hari, ia hanya duduk sendiri di rumah anaknya karena sudah satu tahun lebih istrinya telah meninggal.

Begitu jam menunjukan pukul 2.30 pak Parjo bergegas menyiapkan alat-alat dan perlengkapan yang biasa di bawa kesawah, itu waktu yang biasa pak Parjo untuk kembali ke sawah melanjutkan apa yang belum selesai di kerjakan sebelumnya ataupun mengerjakan hal lain seperti kebun sayur maupun menyirami tanaman palawija. Kali ini ia tidak melanjutkan menanam kedelai akan tetapi menuju lahan yang di tanami sayuran maupun tanaman lain seperti pare, lombok, terong, labu dan ubi jalar yang letaknya berada di tengah petak lahan padi yang disisakan khusus untuk menanam berbagai sayuran tersebut. Disini ia bekerja hingga sore menjelang sholat Azar baru pulang untuk menjalan kewajibanya sebagai seorang muslim yang taat.

Begitulah aktivitas pak Parjo sehari-hari tanpa mengenal lelah untuk mengolah lahannya sebagai sumber kehidupanya dan ia tak pernah mengeluh menjadi petani karena tani merupakan pilihan satu-satunya bagi pak Parjo meski hanya mempunyai lahan sedikit akan tetapi ia sangat menikmati pekerjaanya sebagai petani dan ternyata hanya dengan bertani ia bisa membesarkan anaknya yang berjumlah enam orang dan anak-anaknya sekarang sudah berumah tangga semua.

Hal yang membuat pak Parjo bahagia adalah kala apa yang di tanam dapat menghasilkan keuntungan yang melimpah dan bisa memberikan sebagian pada cucu-cucunya hasil jerih payahnya.

Prinsip pak Parjo hidup ini tidak usah ngoyo baginya hidup ini harus dijalani apa adanya yang petani tekuni sebagai petani yang rajin dan giat bekerja serta kerja keras pasti akan ada hasilnya yang mencukupi. Walau anaknya menasehati agar beristirahat menjadi petani dan mengisi hari tuanya dengan tekun beribadah ,” saya bertekad akan terus menekuni pertanian sampai tidak bisa mengerjakan lagi lahan sawahnya, apa dengan diam sawah itu akan menghasilkan sendiri ,” katanya Saya juga bukan orang yang senang hanya duduk-duduk saja tanpa keluar keringat dan tidak bekerja juga tidak terbiasa bangun siang,” tambahnya.

Jiwa pak Parjo adalah seorang petani sejati yang pantas ditiru para anak muda jaman sekarang, dengan bertanipun bisa sukses dan menghasilkan. Maka sangat disayangkan kalau pemuda desa merasa malu tidak mau menjadi petani seperti pak Parjo.

(Dibaca total 43 kali, dibaca 1 kali hari ini)