Pengerjaan Limbah Albasia

Karangnangka adalah sebuah desa dilereng Gunung Slamet yang berada di ketinggian 475 meter dari permukaan laut, berjarak 10 km dari Ibu kota Kabupaten dengan jumlah penduduk 3925 jiwa serta luas wilayah 179 ha.

Wilayah desa Karangnangka sendiri dibagi menjadi dua dusun (kadus) dengan 8 Rukun Warga dan 16 Rukun Tetangga. Mayoritas mata pencaharian penduduknya petani dan buruh tani sehingga secara umum desa karangnangka sebagai desa agraris, akan tetapi kerena sumber daya air yang melimpah masyarakatpun banyak yang mempunyai usaha perikanan terutama ikan gurameh walaupun ada juga yang membudidayakan ikan selain gurameh seperti mujair, melem, tawes, bawal serta lele. Semua dilakukan karena memang air begitu mencukupi untuk pertanian dan perikanan, meski kalau musim kemarau debit air berkurang tetapi tidak pernah menjadi kendala bagi para petani ikan maupun masyarakat yang memerlukan air untuk kebutuhan rumah tangga.

Itu gambaran bagi petani padi dan perikanan yang mempunyai lahan atau tanah yang bisa di buat kolam ataupun diolah untuk ditanami padi dan palawija, tetapi bagi masyarakat yang tidak mempunyai lahan harus berusaha mempunyai pekerjaan lain yang terkadang membutuhkan ketrampilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Mengingat sumber daya manusia yang produktif ada dan mereka tidak mempunyai lahan pertanian sebagai sumber mata pencaharian maka mereka mencoba membuka peluang usaha di pengolahan limbah albasia yang meskinya membutuhkan modal tetapi tidak begitu banyak dan bisa dilakukan dengan mudah serta pendapatan sudah bisa dinikmati dengan tidak membutuhkan waktu yang lama.

Ada 12 lokasi pengolahan limbah albasia yang sudah berjalan yang dilakukan para pemuda sebagai sumber pendapatan yang tentunya ini akan mengurangi angka pengganguran di desa Karangnangka sekaligus sebagai mata pencaharian berkelanjutan.

Limbah albasia itu sendiri berasal dari perusahaan kayu lapis sebagai bahan baku triplek yang tidak masuk kategori baik sehingga tidak dipakai, akan tetapi limbah tersebut oleh pemuda desa Karangnangka dimanfaatkan/diolah menjadi potongan kecil dengan ukuran panjang 127, 95, 85, 65,45 cm masing-masing ukuran tersebut mempunyai harga tersendiri. Untuk bahan baku mereka membeli di perusahaan kayu lapis yang ada di wilayah Banyumas.

Untuk nilai jual limbah albasia yang sudah diolah tersebut juga bervariasi kalau yang ukuran 127 cm super dihargai Rp. 800.000,-/m3 sedang yang lain Rp. 200.000,- sampai Rp. 575.000,- sesuai ukuran dan kualitas barang.

Alat yang dibutuhkan pisau pemotong dan meja yang sudah di tempeli ukuran sebagai mal untuk mengukur panjang pendeknya limbah albasia tersebut sesuai bentuk ukuranya dan baik tidaknya limbah tersebut. Kalau berbicara modal setiap pengolah limbah mengeluarkan modal awal sebanyak dua juta rupiah untuk pembelian pisau dan mejanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah untuk pembelian satu colt limbah albasia dan setelah di olah yang membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh hari bagi pemula

mereka akan mendapatkan keuntungan kotor tiga ratus lima puluh ribu rupiah sampai empat ratus ribu rupiah dari harga satu colt bahan baku.

Salah satu pengolah limbah Ugi Pambudi mengatakan “ awalnya saya bekerja serabutan tetapi setelah saya melihat peluang ini langsung saya membeli peralatan dan bahan baku, akhirnya sekarang sudah berjalan empat bulan kalau dihitung saya bisa mendapat penghasilan per harinya tiga puluh ribu rupiah sampai tiga puluh lima ribu rupiah, tanpa saya harus susah-susah mencari kerja kesana kemari” katanya

Begitu pula Anto menyampaikan “ dulu saya tidak punya pekerjaan mau bertani tidak punya sawah beternak ikan juga tidak mempunyai lahan untuk kolam tetapi sekarang dengan usaha pengolahan limbah albasia ini saya sudah mempunyai pekerjaan yang tentunya menjadi nilai tambah bagi saya maupun keluarga” ujarnya

Saya ingin bahwa usaha yang saya kelola ini bisa menjadi usaha yang berkelanjutan yang tentunya akan meningkatan kesejahteraan keluarga maupun masyarakat” imbunya

Segala sesuatu harus dilakukakn dengan keberanian yang nyata dan logika sehingga apa yang kita harapkan bisa terlaksana dengan hasil yang maksimal dan sesuai dengan harapan. Lakukakn mulai dari hal yang kecil yang bisa kita lakukan untuk mengubah diri kita menjadi mandiri.

(Dibaca total 107 kali, dibaca 1 kali hari ini)