Petani memanen padinya

Di balik sukses pembangunan harus diakui sejujurnya, terjadi perubahan-perubahan di segala bidang, karena pada hakekatnya pembangunan adalah perubahan pula. Pertumbuhan kawasan industri, usaha, bahkan pendidikan formal, disisi lain mencaplok lahan-lahan pertanian. Demikian pembangunan waduk, jaringan irigasi, instalasi listrik sampai jalan-jalan raya juga ikut mencaplok lahan-lahan pertanian juga.

Semua ini mengakibatkan semakin menciutnya lahan pertanian, sehinggan pemerintah merasa perlu mencetak sawah-sawah baru, seperti pembukaan lahan gambut diluar Jawa.

Menyusutnya lahan pertanian dibuktikan dengan banyaknya lahan produktif untuk pertanian tetapi sekarang telah berubah menjadi perumahan, kantor, maupun kios-kios pedagang.

Sementara itu secara perorangan, penyusustan pemilikan lahan pertanian oleh petanipun terjadi.

Penyusutan luas lahan pertanian secara menyeluruh dan secara pemilikan perorangan ( 0,5 ha/rumah tangga) sudah segera memperlihatkan sisi yang memperihatinkan, apalagi ditambah dengan meningkatnya jumlah petani gurem. Keprihatinan kita akan semakin menjadi jadi bila kita ketahui, bahwa sebenarnyalah peningkatan jumlah petani gurem bisa lebih besar lagi seandainya para petani tidak urban ke kota. Gelombang urbanisasi petani gurem ke kota yang terjadi juga memperlihatkan sisi memprihatinkan yang lain, atas kemerosotan pemilikan lahan oleh para petani.

PENYUSUTAN

Kita ketahui bersama, tardisi bangsa kita mewariskan seluruh harta orang tua kepada anak-anaknya. Tradisi ini ikut campur dalam peningkatan jumlah petani gurem, sebab lahan yang semula luas dikuasai satu rumah tangga dibagi-bagi menjadi milik beberapa rumah tangga. Otomatis penguasaan tiap-tiap rumah tangga menciut ini justru akan membuat setiap rumah tangga pewaris jadi tak mampu hidup mengandalkan lahannya, hingga urban ke kota. Maka dibutuhkan perubahan atas tradisi pewarisan ini hingga tak ikut menyusutkan luas lahan yang dikuasai tiap-tiap rumah tangga petani.

Terjadinya penyusustan lahan yang dikuasai rumah tangga petani ini otomatis menunjukan terjadinya kemerosotan tingkat kesejahteraan petani, lebih-lebih karena ternyata jumlah petani  gurem meningkat.(meskipun sudah banyak yang urban ke kota).

Kenyataan ini bisa menjadi ancaman serius bagi bagi swasembada pangan kita, karena besarnya jumlah petani gurem menjadi kendala intensifikasi.

Selain itu petani gurem dengan luas lahan kurang dari 0.5 Ha tentunya sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka sendiri, apalagi untuk menghasilkan hasil berlebih sehingga bisa untuk dipasok ke pasar.

Pada perjuangan untuk sekedar memenuhi kebutuhan mereka sendiri yang demikian berat, akan menimbulkan apatisme dalam pengelolaan lahan pertaniannya, hingga hasilnya akan semakin merosot saja. Akibat terburuk dari hal ini ialah mereka lalu menjual lahanya dan mungkin sekali lahan itupun akan berubah fungsi, sehingga luas lahan pertanianpun akan semakin susut lagi.

TRADISI PEWARISAN

Untuk mencegah terjadinya kemungkinan buruk seperti nin, pemerintah perlu mencanangkan berbagai program intensifikasi pertanian (tumpang sari, mina padi) serta membantu pengadaan aneka bibit unggul, teknologisasi, suplai pupuk. Yang paling mutakhir dan yang bersifat mendasar adalah membangun kelompok kelompok tani yang bertujuan merangsang daya usaha petani miskin khususnya lewat berbagai jenis usaha yang ditentukan oleh mereka sendiri.

Namun tentunya usaha meningkatkan kesejahteraan petani gurem jangan hanya dengan program-program yang menyusahkan dan para petani juga jangan hanya berharap dari pemerintah. Harus diusahakan cara lain dari para petani gurem itu sendiri sehingga akan sukses karena adanya semangat berusaha dari mereka patani gurem, ialah menghilangkan “ tradisi pewarisan lahan” yang dipecah-pecah (untuk dibagi-bagikan kepada sekian anak) seperti yang selama ini terjadi.

Banyak negeri lain yang bertumpu pada sektor pertanian yang benar-benar tangguh, yang dalam kurun waktu selama ini tak mengalami kenaikan jumlah petani yang berarti ini jelas “ tradisi pewarisan lahan “ mereka tidaklah dibagi-bagi.

(Dibaca total 88 kali, dibaca 1 kali hari ini)