Belajar Tembang Majapat Mulai Di Gemari

Macapat sebagai salah satu kebudayaan yang tersisih dan semakin punah dari peminat kaum muda. Generasi muda sekarang menilai seolah macapat sudah ketinggalan jaman dibanding lagu pop .

Maka pengiat macapat mulai kwatir akan benar punahnya kebudayaan majapat sebagai bagian dari kebudayaan jawa yang adi luhung.

Untuk itu pemerintah Desa Karangnangka terus merintis berbagai upaya agar majapat mendapatkan tempat di masyarakat khususnya generasi muda sebagai penerus.

Bertempat di ruang PKK Desa Karangnangka 14 dari 16 RT mewakilkan warganya mengikuti latihan macapat yang di bimbing oleh Supriyatin,SPd dan Wastro Utomo selaku pengiat seni dari dua generasi yang berbeda.

Dalam latihan tersebut para pserta di ajari bagaimana melantunkan tembang macapat dengan berbagai cengkok agar suaranya pas dengan not yang ditentukan. Selain itu dalam macapat para peserta juga bisa memahami makna dari tembang macapat tersebut sebagai patokan manusia dalam menjalani kehidupanya, baik manusia dengan TuhanNya maupun manusia dengan manusia sehingga ada keselarasan hidup yang hakiki.

Tembang macapat sering dimaknai sebagai panglipur turun lare (penghibur/penghantar tidur anak) yang kadang lebih sering kita dengar sebagai lagu nina bobo, tembang macapat ini ditembangkan sambil memgendong anaknya agar segera tidur ini dilakukakn oleh para orang tua dahulu kalau menidurkan anaknya.

Melihat gelagat perkembangan latihan macapat itu yang membanggakan Kepala desa Karangnangka sebagai Ketua Dewan Kesenian Kecamatan Kedungbanteng memberikan perhatian serius terhadap latihan tembang macapat yang memang sementara ini banyak di ikuti para wanita.

Tetapi tiap satu bulan sekali juga diadakan latihan oleh para kaum pria untuk kidung maupun majapat sehingga kalau digabungkan akan menjadikan latihan macapat ini sebagai kekuatan untuk lebih melihatkan bahwa macapat masih ada dan tetap banyak yang mengemari seni tersebut.

Ini merupakan bukti bahwa seniman macapat desa Karangnangka mempunyai tekad dan semangat kuat untuk membesarkan nama desa melalui seni macapat yang kian punah oleh kemajuan jaman.

Kita semua harus menyadari bahwa walaupun perkembangan jaman semakin maju dan modern tetapi kita harus tidak melupakan asal usulnya dan melupakan nilai-nilai luhur budaya nenek moyangnya yang adi luhung. Siapa lagi yang melestarikan budaya kita kalau bukan kita sendiri, dan jangan protes kalau budaya kita akan di miliki oleh negara-negara lain yang bisanya hanya mencontoh budaya kita dan mengeklaimya.

Hamengku Buwono XI dia Raja yang berpikiran modern tetapi tidak pernah melupakan asal-usulnya.

Mari sebagai generasi muda Karangnangka mulai mengali potensi budaya yang kian sirna untuk kita bangkitkan sebagai satu kekuatan dalam bermasyarakat agar desa bermartabat dan mandiri. (DB)

(Dibaca total 35 kali, dibaca 1 kali hari ini)