Musyawarah Untuk Mufakat Masyarakat Pedesaan

Seperti yang kita ketahui, bahwa masyarakat disebuah desa sangatlah lain dengan masyarakat di perkotaan. Perbedaan yang dimaksud yaitu mengenai tingkat pemikiran mereka, walaupun di kota kehidupan keluarganya atau rasa sosialnya sangat jauh di banding dengan di desa. Dan salah satu faktor yang mendasari perbedaan pemikiran antara masayarakat desa dan kota adalah tingkat pendidikan mereka.

Dan seiring dengan arah reformasi bahwa saat ini pemberdayaan pembangunan disegala bidang diorientasikan pada masyarakat kecil, khusunya masyarakat di pedesaan haruslah lebih diperdayakan kualitas sumber daya manusianya.

Masyarakat di desa terutama di desa yang dianggap masih tertinggal masih sangat membutuhkan bimbingan dan pelatihan yang nyata oleh pihak berwenang yang menanggani desa tersebut.

Bimbingan dan pelatihan bagi masyarakat pedesaan ini sangatlah penting guna menumbuhkan sumber daya manusia yang kreatif, inovatif serta untuk dinamisnya pembangunan masyarakat desa.

Sayangnya sampai saat ini belumlah ada bimbingan dan pelatihan tentang peranan warga dalam proses pembangunan masyarakat desa, bimbingan dan pelatihan tentang keorganisasian masyarakat desa haruslah lebih dioptimalkan dan benar-benar terarah, sehingga warga desa lebih bersikap kritis terhadap pembangunan didesanya.

Di dalam masyarakat desa kelembagaan pedesaan seperti RT, RW, LPMD, Karang Taruna ,Forum maupun lembaga lain yang ada merupakan faktor penting. Karena lembaga pedesaan tersebut membawa misi untuk menciptakan stabilitas politik di pedesaan, serta merupakan faktor utama yang mengerakan pembangunan desa.

Kita bisa melihat dan mengikuti bagaimana kurang optimalnya lembaga pedesaan di desa-desa. Ini dapat kita ambil contoh pada saat ada rapat atau musyawarah yang diadakan desa untuk membahas masalah pembangunan ataupun lainya. Misal pada saat rapat sesorang dianggap sebagai dewa sehingga apa yang dari beliau mutlak harganya. Dalam hal ini warga kurang memahami apa arti musyawarah desa tersebut, dan yang dianggap dewa mengambil inisiatif sendiri akan kebijakan pembangunan atau lainya tersebut, karena tidak adanya respon atau tanggapan dari para warga desa. Tentunya yang demikian sudah harus sudah ditinggalkan dan juga harus perlu adanya pemberdayaan sikap kritis warga secara terarah agar pembangunan di segala bidang tersebut berjalan lancar.

Dari persoalan diatas yang telah disajikan diatas, maka kita bisa mencermati bahwa pokok permasalahan yang mempengaruhi tentang dinamisnya pembangunan masyarakat desa adalah tentang perkembangan pemikiran warga desa yang masih terlalu pasif untuk mengungkapkan pendapatnya dihadapan forum atau pemerintah desa, dan hal tersebut akan menimbulkan dampak negatif bagi kelancaran pembangunan desa.

Maka dari itu kita harus membantu untuk meningkatkan pembangunan pemikiran masyarakat desa agar lebih kritis demi terwujudnya kelancaran pembangunan msayarakat desa yang dinamis yang timbul karena keharmonisan seluruh warga desa.

Salah satu ciri tentang keberhasilan pembangunan di negara kita, baik ditingkat pusat maupun ditingkat desa adalah semakin kritisnya masyarakat terhadap program-program kebijaksanaan pembangunan yang ditawarkan pemerintah. Dan tentunnya dengan catatan bahwa sikap kritis dari masyarakat tersebut haruslah didasari dengan alasan alasan yang rasional dan tanpa mengesampingkan nilai nilai etika.

Dan sudah saatnya desa tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan akan tetapi sebagai subjek pembangunan yang tentunya nantinya akan menjadikan desa tersebut menuju kemandirian desa.

(Dibaca total 74 kali, dibaca 1 kali hari ini)