Pembuat Bata Merah Sedang Menjemur Bata Mentah

KARANGNANGKA– Banyak orang mengeluhkan musim kemarau terutama para petani yang mengandalkan air, karena debit air sungai mulai mengecil sehingga para petani mulai berebut air untuk mengaliri lahan sawahnya.

Tetapi musim kemarau tidak semua mengeluhkan terutama para pengrajin Bata Merah di Desa Karangnangka Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas, dengan musim kemarau mereka diuntungkan dengan teriknya matahari. Pada musin kemarau saat ini produksinya meningkat dan kualitasnya bagus.

Disamping memenuhi konsumen, nantinya sisanya untuk persedian ketika musim hujan.

Salim 25 tahun pembuat bata merah mengatakan “ Musim kemarau menguntungkan bagi dirinya, pembuatan bata merah bisa berjalan lancar, karena tidak terganggu hujan. Waktu pembuatan dari pencetakan sampai pembakaran jadi cepat.

Kami sangat tergantung panas matahari untuk pengeringan, semakin panas waktu siang semakin cepat waktu pengeringannya atau pembakaran.

Produksi bata merah saat ini bisa maksimal dibanding pada musim hujan. Pada musim kemarau mampu mencetak 500 biji setiap hari, tetapi pada musim hujan hanya 200 – 250 biji per hari.

Kalau musim kemarau prosesnya tidak terlalu lama hanya sekitar tiga minggu akan tetapi kalau musim hujan untuk memenuhi kebutuhan 20.000 biji bata merah membutuhkan waktu sekitar satu bulan,” jelasnya

Musim kemarau membuat kualitas bata merah semakin bagus dan meningkatkan produksi. Bahan mentah yang cepat kering mempercepat proses pembakaran serta tidak membutuhkan sekam yang banyak untuk bahan bakar. Bata merah hasilnya bagus dan tidak mudah hancur atau pecah.

Dengan meningkatnya produksi bata merah jelas berdampak pada harga jual pada pengrajin, karena ditingkat pengrajin harga jualnya Rp. 400 per biji. Sedang kalau musim hujan harga jualnya Rp 450 tetapi tidak masalah karena kalau musim hujan kita akan lebih susah sehingga walau selisih RP.50 dihitung sama saja.

Di musim kemarau saat ini permintaan akan bata merah meningkat, seperti pembakaran yang sedang berlangsungpun sudah di tunggu oleh konsumen sehingga untuk menyimpan persedian musim hujan tidak mungkin bisa.

Konsumen bata merah desa Karangnangka berasal dari sekitar desa karena memang banyak toko material yang mengambil bata merah ditempat lain. Walau permintaan banyak tetapi harga tetap tidak dinaikan. (@DirinBaune).

(Dibaca total 38 kali, dibaca 1 kali hari ini)